TIM HUMAS – UIN Walisongo https://walisongo.ac.id Sat, 07 Feb 2026 10:48:52 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.5.5 https://walisongo.ac.id/wp-content/uploads/2024/06/favicon-uinws.ico TIM HUMAS – UIN Walisongo https://walisongo.ac.id 32 32 Hasil Adalah Bonus dari Proses: Kisah Bela, Wisudawan Terbaik Psikologi UIN Walisongo yang Gemar Menabung Ilmu https://walisongo.ac.id/hasil-adalah-bonus-dari-proses-kisah-bela-wisudawan-terbaik-psikologi-uin-walisongo-yang-gemar-menabung-ilmu/ Sat, 07 Feb 2026 10:48:50 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016252 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub dipenuhi suasana haru dan bangga. Sebanyak 1.277 wisudawan secara resmi dilepas oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dalam prosesi Wisuda Periode Februari 2026. Di tengah deretan lulusan berprestasi, terselip nama Dewi Nabela Sofya El-Fikri, wisudawan dari Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) yang berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik.

Bagi mahasiswi yang akrab disapa Bela atau Nabel ini, predikat tersebut bukanlah ambisi utama sejak awal. “Jujur, ini bukan target awal. Fokusku lebih ke berusaha maksimal di setiap semester. Yang penting prosesnya, hasilnya ya bonus,” ungkapnya dengan rendah hati.

Ketertarikan Bela pada dunia psikologi dan nilai-nilai keislaman ia tuangkan dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Dukungan Sosial dan Kecerdasan Emosional terhadap Resiliensi Akademik Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren”.

Melalui riset ini, Bela menemukan fakta menarik. Support System: Dukungan orang sekitar menjadi kunci utama bagi mahasiswa Hafiz untuk tetap tangguh menghadapi beban akademik. Kecerdasan Emosional: Semakin peka seseorang memahami emosi diri dan orang lain, semakin tinggi pula tingkat ketahanan mereka dalam belajar.

Hal ini sejalan dengan visi Unity of Sciences UIN Walisongo. Bagi Bela, kesatuan ilmu ia terapkan melalui sikap sabar, usaha maksimal, dan tawakal dalam menghadapi setiap tantangan akademik.

Bela membuktikan bahwa kesibukan di luar kelas bukan penghambat prestasi. Selama berkuliah, ia aktif sebagai Staff Kementerian Dalam Negeri DEMA FPK 2024 dan anggota PMII Rayon Psikologi dan Kesehatan.

Menurutnya, organisasi justru menjadi laboratorium nyata untuk melatih manajemen waktu. “Organisasi itu tempat belajar networking dan disiplin. Kuncinya jangan over-commit dan tetap tahu prioritas akademik,” tuturnya. Bela sendiri memilih gaya belajar rutin setiap hari agar materi lebih “nyantol” dan menghindari stres akibat sistem kebut semalam.

“Gelar ini bukan sekadar angka, tapi tanggung jawab untuk terus berkontribusi dan memberikan dampak positif bagi orang lain.” Ungkapnya.

Saat pengumuman wisudawan terbaik keluar, orang tua menjadi pihak pertama yang ia kabari. Doa restu dari Mama dan Papa diakui Bela sebagai bahan bakar utamanya untuk tetap konsisten. Meski sempat merasa lelah akibat padatnya jadwal, Bela selalu mengingatkan dirinya sendiri untuk menikmati proses.

“Kalau bisa kembali ke masa mahasiswa baru, aku mau bilang: kamu itu kuat, kamu bisa, dan kamu akan baik-baik saja. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, nikmati perjalanannya,” pesannya untuk dirinya di masa lalu.

Ia berencana langsung melanjutkan studi ke jenjang S2 untuk memperdalam kompetensinya di bidang Psikologi. Ia berharap ilmunya dapat membuka peluang lebih luas untuk bermanfaat bagi masyarakat.

Kepada rekan-rekan mahasiswa yang masih berjuang, Bela menitipkan pesan hangat, “Capek itu pasti, tapi jangan menyerah. Langkah kecil yang kamu ambil hari ini akan membawamu lebih dekat ke impianmu. Jangan takut bermimpi besar dan jangan ragu untuk bertanya!”

]]>
Kearifan Lokal Samin di Tangan Magister: Kisah Darsini, Wisudawan Terbaik UIN Walisongo yang Padukan Spiritualitas dan Resolusi Konflik https://walisongo.ac.id/kearifan-lokal-samin-di-tangan-magister-kisah-darsini-wisudawan-terbaik-uin-walisongo-yang-padukan-spiritualitas-dan-resolusi-konflik/ Sat, 07 Feb 2026 10:47:47 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016248 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu, 7 Februari 2026, menjadi hari yang bersejarah bagi 1.277 wisudawan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Di tengah riuh rendah kebahagiaan di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub, mencuat satu nama yang mencuri perhatian: Darsini.

Lulusan program Magister Ilmu Agama Islam ini dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda Periode Februari 2026. Namun, bagi Darsini, gelar “terbaik” hanyalah sebuah bonus dari proses tanggung jawabnya sebagai penerima beasiswa BIB (Beasiswa Indonesia Bangkit).

Apa yang membuat pencapaian Darsini istimewa adalah tesisnya yang berani mengangkat nilai lokal yang sering disalahpahami. Berjudul “Nrimo dan Ngalah sebagai Mekanisme Transformasi Konflik Masyarakat Samin Klopoduwur Blora dalam Menghadapi Konflik Industri Semen”, Darsini memberikan angin segar dalam studi resolusi konflik.

Di saat banyak pakar fokus pada program institusional yang kaku, Darsini justru mendalami bagaimana sikap batin masyarakat Samin mampu mengelola konflik industri di Pegunungan Kendeng.

“Saya melihat nrimo dan ngalah bukan sebagai kepasrahan buta, melainkan lived values atau kecerdasan mental. Ini adalah praktik sosial konkret yang menjaga keharmonisan saat menghadapi tekanan eksternal,” ungkap Darsini.

Perjalanan akademik Darsini di jenjang S2 ini adalah sebuah lompatan besar. Berangkat dari latar belakang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) saat S1, ia harus berjibaku dengan teori-teori sosiologi dan resolusi konflik modern yang asing baginya.

Tantangan ini justru menjadi ruang baginya untuk menerapkan visi Unity of Sciences (UoS) UIN Walisongo. Darsini berhasil melakukan “spiritualisasi ilmu modern”, di mana nilai etis Islam berdialog dengan kearifan lokal Samin dan teori resolusi konflik modern.

Banyak mahasiswa terjebak dalam jadwal yang kaku, namun Darsini memilih pendekatan yang fleksibel. Strategi Early Start, untuk materi sulit, ia mulai mengerjakan jauh-jauh hari agar punya ruang eksplorasi. The Power of Deadline, untuk tugas ringan, ia mengaku sering mendapat “energi kreatif” saat mendekati tenggat waktu.

Darsini menyebut dua tokoh besar sebagai mentor spiritual dan intelektualnya. Ia mengagumi Gus Baha karena kemampuannya mendakwahkan agama dengan santai dan sederhana. Sementara itu, sosok Prof. Ahmad Syafi’i Maarif melalui karya “Memoar Seorang Anak Kampung” telah membentuk pandangannya yang egaliter terhadap fenomena keagamaan di Indonesia.

Namun, di atas semua tokoh besar itu, sosok ibunya adalah motivator utama. “Hal-hal baik yang datang kepada saya adalah lantaran doa dan rida dari Ibu,” tuturnya haru.

Pasca-wisuda, Darsini berencana untuk langsung terjun ke dunia kerja di mana pun ia bisa bermanfaat. Ia juga bertekad memaksimalkan teknologi digital untuk menyebarkan ilmu agama secara sederhana dan menyenangkan, agar tidak terkesan mengintimidasi.

Wisuda periode ini, yang meliputi Wisuda Doktor (S3) ke-41, Magister (S2) ke-66, dan Sarjana (S1) ke-99, menjadi bukti bahwa UIN Walisongo terus melahirkan akademisi yang tidak hanya cerdas di atas kertas IPK, tapi juga peka terhadap kearifan lokal dan persoalan kemanusiaan.

]]>
Anak Petani dari Pelosok Jadi Wisudawan Terbaik S2 Ekonomi Syariah UIN Walisongo: “Doa Bapak Dikabulkan” https://walisongo.ac.id/anak-petani-dari-pelosok-jadi-wisudawan-terbaik-s2-ekonomi-syariah-uin-walisongo-doa-bapak-dikabulkan/ Sat, 07 Feb 2026 10:46:35 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016244 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), suasana khidmat menyelimuti Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub dalam gelaran Wisuda Periode Februari 2026 UIN Walisongo Semarang. Di antara 1.277 wisudawan, terselip sebuah kisah inspiratif dari Nurul Fajriatussaadah, mahasiswi Program Studi S2 Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).

Nurul berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik jenjang Magister, sebuah pencapaian yang sempat ia anggap mustahil namun kini menjadi kado terindah bagi kedua orang tuanya di kampung halaman.

Lahir sebagai anak perempuan pertama di sebuah desa pelosok dengan akses pendidikan terbatas, Nurul tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang petani dengan penghasilan tidak tetap, dan ibunya adalah seorang guru ngaji.

“Banyak yang meragukan dan mencemooh ketidakmungkinan saya melanjutkan pendidikan. Namun melalui beasiswa sejak S1 hingga S2, semua keraguan itu berubah menjadi tangisan haru,” ungkap Nurul dengan mata berkaca-kaca.

Saat mengirimkan foto mengenakan selempang “Wisudawan Terbaik” kepada orang tuanya, reaksi sang ayah begitu menyentuh. “Benar kan, doa saya dikabulkan,” ujar sang ayah, sosok yang paling optimis terhadap kemampuan Nurul sejak awal.

Prestasi Nurul tidak didapatkan dengan santai. Selama menempuh studi S2, ia harus melakukan “Manage Realita”—membiayai kebutuhan hidup mandiri tanpa membebani orang tua. Nurul melakoni dua pekerjaan sekaligus secara part-time dan Work From Home (WFH).

“Hari kuliah saya belajar dari pagi sampai sore, lalu lanjut kerja. Akhir pekan saya ambil tugas freelance. Prinsip saya, semua tugas harus selesai sebelum deadline. Saya tidak belajar setiap hari, tapi saat belajar, saya pastikan waktunya berkualitas,” tuturnya mengenai manajemen waktu.

Kualitas intelektual Nurul teruji dalam tesisnya yang membedah perbedaan kinerja bank syariah di Indonesia dan Malaysia. Melalui visi Unity of Sciences UIN Walisongo, ia mengintegrasikan angka-angka ekonomi dengan nilai moral syariah.

Temuan pentingnya menunjukkan bahwa kehadiran Dewan Pengawas Syariah (DPS) bukan sekadar formalitas, melainkan memberikan sinyal positif bagi kinerja bank syariah melalui pengawasan etika dan prinsip syariah yang ketat.

Meski meraih gelar terbaik, Nurul tetap rendah hati. Baginya, gelar tersebut bukanlah penentu masa depan, melainkan amanah untuk terus berkontribusi. Ia berpesan kepada adik-adik tingkatnya untuk tidak terpaku pada angka IPK semata.

“Berikan yang terbaik dalam setiap hal. Manfaatkan peluang sekecil apa pun, bahkan yang hanya 0,01 persen, karena itu bisa jadi nilai tambah yang besar. Jalankan peranmu dengan maksimal, maka hasil akan mengikuti,” pungkasnya.

]]>
Filosofi Wisudawan Terbaik PIAUD: Gelar Ini Angka, Tapi Dukungan Keluarga Menjadikan Saya Miliarder https://walisongo.ac.id/filosofi-wisudawan-terbaik-piaud-gelar-ini-angka-tapi-dukungan-keluarga-menjadikan-saya-miliarder/ Sat, 07 Feb 2026 10:04:22 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016240 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub dipenuhi suasana haru saat Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang resmi melepas 1.277 wisudawan. Di antara deretan lulusan berprestasi, muncul nama Eky Adelia Sari, seorang mahasiswi dari Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) yang terpilih menjadi Wisudawan Terbaik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).

Eky, sapaan akrabnya, membawa warna baru dalam definisi “mahasiswa berprestasi”. Baginya, gelar terbaik ini bukan sekadar mengejar angka IPK, melainkan sebuah perjalanan untuk menemukan jati diri. “Tanpa gelar wisudawan terbaik pun, I just think that I am good enough. Setiap manusia itu hebat dengan standarnya masing-masing,” ujarnya dengan penuh percaya diri.

Daya tarik utama dari pencapaian Eky terletak pada tugas akhirnya yang tidak biasa. Ia mengangkat judul “The Impact of Parenting on Children’s Problematic Behavior: A Behavioristic Analysis of The Character Zain Al-Rafeea in The Film Capernaum”.

Melalui kacamata behavioristik, Eky membedah bagaimana perilaku bermasalah pada anak seringkali merupakan mekanisme pertahanan diri akibat pola asuh lingkungan yang buruk. “Sifat ‘nakal’ pada anak itu sering kali adalah cara mereka belajar bertahan hidup dari lingkungan yang tidak baik. Film Capernaum memberikan gambaran nyata bahwa perilaku anak adalah hasil dari stimulus dan respons dari orang tuanya,” jelas Eky.

Uniknya, Eky mengaku banyak menyerap ilmu bukan hanya dari buku teks, melainkan dari hobi menonton film dan serial. Ia sering melakukan cross-check antara adegan dalam film dengan teori-teori pendidikan anak yang ia pelajari di kelas.

Dibalik kesuksesannya, Eky sangat terbuka mengenai latar belakangnya. Ia mengaku secara finansial keluarganya sempat mengalami masa sulit, namun ia merasa menjadi orang paling kaya dalam hal dukungan moral.

“Financially? Broke. But when it comes to unconditional love and support, I think I am the billionaire here,” ungkapnya haru. Dukungan tanpa batas dari keluarga inilah yang membuatnya mampu bertahan, bahkan sejak masa-masa sulit semester awal saat ia hampir menyerah karena harus tinggal jauh dari rumah demi menuntut ilmu di Semarang.

Sebagai mahasiswa angkatan yang mengalami transisi perubahan nama fakultas dari FITK menjadi FTIK sesuai PMA No. 49 Tahun 2025, Eky memiliki segudang kenangan manis. Ia sangat menghormati para dosen PIAUD yang ia sebut bukan sekadar pengajar, melainkan mentor hidup.

“Dosen-dosen PIAUD itu seperti terbuat dari cahaya. Mereka nggak pernah marah dan selalu mengarahkan kami,” kenangnya.

Menerapkan visi Unity of Sciences (Kesatuan Ilmu), Eky percaya bahwa semua ilmu bersumber dari Tuhan dan tidak ada yang sia-sia. Ke depan, ia tidak ingin membatasi diri pada satu pilihan. Apakah lanjut S2 atau langsung terjun ke dunia kerja? “Try them all,” jawabnya singkat namun ambisius.

UIN Walisongo Semarang terus berkomitmen melahirkan lulusan kritis dan inovatif seperti Eky Adelia Sari. Bagi Anda yang ingin mendalami dunia pendidikan anak usia dini atau bidang lainnya dengan fasilitas unggul, pendaftaran jalur SNBP dan SPAN-PTKIN 2026 telah dibuka. Mari bergabung dengan Kampus Kemanusiaan dan Peradaban. Informasi selengkapnya kunjungi pmb.walisongo.ac.id.

]]>
Melampaui Ekspektasi: Fajriyatun Nurul Hidayah, Putri Lulusan SMP yang Kini Jadi Magister Terbaik UIN Walisongo https://walisongo.ac.id/melampaui-ekspektasi-fajriyatun-nurul-hidayah-putri-lulusan-smp-yang-kini-jadi-magister-terbaik-uin-walisongo/ Sat, 07 Feb 2026 10:03:00 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016236 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu, 7 Februari 2026, menjadi hari yang penuh haru di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. Di antara 1.277 wisudawan yang memadati ruangan, nama Fajriyatun Nurul Hidayah (Ida) menggema sebagai Wisudawan Terbaik Program Pascasarjana Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM).

Pencapaian ini bukan sekadar deretan angka di atas kertas. Bagi Ida, predikat ini adalah kado indah untuk kedua orang tuanya, sekaligus bukti bahwa latar belakang pendidikan keluarga bukanlah penghalang untuk meraih puncak akademik.

Ida tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai ketekunan. Ayahnya merupakan lulusan SD dan ibunya lulusan SMP. Namun, di tangan Ida, rantai pendidikan keluarga berhasil ditingkatkan setinggi langit. Ia adalah orang pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang magister.

“Bapak dan Ibu selalu berpesan dua hal: ketekunan dan kejujuran. Dua hal itu yang saya bawa selama studi di UIN Walisongo. Predikat ini adalah amanah, pengingat bagi saya untuk tetap menjaga integritas di masyarakat nanti,” ungkap Ida dengan rendah hati.

Kualitas intelektual Ida tercermin kuat dalam tesisnya yang berjudul “Wacana Egalitarian Gender dalam The Message of The Qur’an karya Muhammad Asad: Perspektif Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough”.

Alih-alih hanya melihat isi teks, Ida membedah bagaimana tafsir modern berbahasa Inggris ini membangun cara pandang dunia terhadap relasi laki-laki dan perempuan melalui pilihan linguistik dan struktur wacana. Temuannya menunjukkan bahwa tafsir Muhammad Asad merupakan bentuk negosiasi makna yang kompleks, dipengaruhi oleh latar belakang intelektual dan sosial pemikiran Islam modern di kancah global.

Soal manajemen waktu, Ida memiliki pendekatan yang unik. Ia mengakui dirinya terkadang menjadi seorang deadliner, namun tetap memegang prinsip yang kuat: Jangan tunda apa yang bisa dikerjakan hari ini.

]]>
Menatap Langit, Membumikan Fiqh: Kisah Thohri, Ahli Falak Muda yang Menjadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo https://walisongo.ac.id/menatap-langit-membumikan-fiqh-kisah-thohri-ahli-falak-muda-yang-menjadi-wisudawan-terbaik-uin-walisongo/ Sat, 07 Feb 2026 10:01:42 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016232 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub menjadi saksi bisu pengukuhan 1.277 wisudawan UIN Walisongo Semarang. Di tengah kemegahan prosesi Wisuda Doktor (S3) ke-41, Magister (S2) ke-66, dan Sarjana (S1) ke-99 ini, satu nama mencuri perhatian dengan narasi perjuangannya yang luar biasa: Muhammad Muhaimin Thohri.

Lulusan Program Studi Ilmu Falak, Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) ini tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya, tetapi juga dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik. Bagi pria yang akrab disapa Thohri ini, gelar tersebut adalah buah dari konsistensi ikhtiar langit dan kerja keras di bumi.

Siapa sangka, Thohri mengawali masa kuliahnya dengan tantangan batin yang besar. Berlatar belakang pendidikan pondok pesantren dengan kajian keagamaan yang kental, ia sempat merasa salah jurusan saat pertama kali menghadapi materi Ilmu Falak yang sangat teknis, penuh perhitungan astronomi, dan logika matematis.

“Awalnya saya kesulitan memahami sisi teknis Ilmu Falak. Namun, saya yakinkan diri bahwa selama mau berusaha, semua bisa dipahami. Perlahan, kebingungan itu berubah menjadi ketertarikan mendalam karena Ilmu Falak memadukan keilmuan Islam klasik dengan pendekatan sains modern,” kenang Thohri.

Ketelitian Thohri dalam memadukan teks klasik dan astronomi tertuang dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Konsep Matla’ dalam Kitab Al-Ma’āyīr Al-Fiqhiyyah Wal-Falakiyah fī I’dādi At-Taqāwīm Al-Hijriyyah”.

Ia menyoroti isu krusial dalam penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia. Temuannya menunjukkan adanya ruang dialog yang masih terbuka antara pendekatan tekstual fiqh klasik dengan kebijakan praktis nasional. Riset ini menjadi bukti nyata penerapan visi Unity of Sciences (Kesatuan Ilmu) di UIN Walisongo, di mana agama dan sains tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam memberikan solusi bagi umat.

Berbeda dengan mahasiswa pada umumnya yang sering terjebak pola Sistem Kebut Semalam, Thohri adalah pribadi yang sangat disiplin. Aktif di berbagai organisasi seperti CSSMoRA, JQH El-Fasya, hingga BINORA, tidak membuatnya lalai secara akademik.

“Saya bukan tipe deadliner. Saya menyempatkan belajar setiap hari meskipun sedikit. Konsistensi kecil yang terus-menerus itu jauh lebih efektif daripada belajar mendadak saat ujian,” ungkapnya.

Baginya, predikat wisudawan terbaik bukanlah sekadar angka IPK di atas kertas, melainkan sebuah amanah moral. “Masyarakat memiliki ekspektasi bahwa kita harus menjadi contoh dalam sikap dan kontribusi nyata,” tambah putra dari seorang guru PNS dan ibu rumah tangga ini.

Setelah lulus dengan beasiswa penuh dari Kemenag di jenjang S1, Thohri kini membidik beasiswa untuk melanjutkan studi S2 Ilmu Falak. Ia ingin terus mendalami disiplin ilmu yang menuntut ketelitian tinggi ini agar bisa memberi manfaat lebih luas bagi pengambilan keputusan keagamaan di tingkat nasional.

Kepada adik-adik tingkatnya, Thohri menitipkan pesan sederhana namun mendalam: “Tetap semangat dan jangan menyia-nyiakan kesempatan. Tidak semua orang bisa merasakan bangku perkuliahan. Proses yang kalian jalani hari ini akan menentukan masa depan kalian.”

Keberhasilan Thohri menjadi bukti bahwa UIN Walisongo Semarang mampu mencetak sarjana yang kompeten dalam mengintegrasikan agama dan sains. Saat ini, jalur pendaftaran SNBP dan SPAN-PTKIN 2026 telah dibuka. Mari bergabung dengan Kampus Kemanusiaan dan Peradaban. Informasi selengkapnya kunjungi pmb.walisongo.ac.id.

]]>
Sosiolog Muda dan Semangat Ekofeminisme: Shafira Raih Gelar Wisudawan Terbaik FISIP UIN Walisongo https://walisongo.ac.id/sosiolog-muda-dan-semangat-ekofeminisme-shafira-raih-gelar-wisudawan-terbaik-fisip-uin-walisongo/ Sat, 07 Feb 2026 10:00:24 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016228 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), suasana haru dan bangga menyelimuti Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang resmi melepas 1.277 wisudawan dalam Wisuda Periode Februari 2026. Di antara barisan lulusan berprestasi, nama Shafira Putri Indraswati muncul sebagai bintang dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Bagi Shafira, predikat wisudawan terbaik bukanlah hal baru, namun tetap menjadi kejutan yang mengharukan. Setelah sebelumnya meraih gelar serupa di bangku SMA, mahasiswi Program Studi Sosiologi ini membuktikan konsistensinya dengan kembali menjadi yang terbaik di level universitas.

“Gelar ini adalah penanda perjalanan panjang tentang komitmen, ketekunan, dan doa yang tak henti. Ilmu bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan bagi sesama,” ungkap Shafira.

Ketertarikan Shafira pada isu sosial dan lingkungan membawanya pada riset skripsi yang mendalam berjudul “Ekofeminisme Dalam Praktik: Studi Perempuan Penggerak Lingkungan dalam Program Eco Care Komunitas Gerakan Seribu Rupiah (GSR) di Ngaliyan, Kota Semarang.”

Penelitian ini membedah peran krusial perempuan di tingkat akar rumput yang seringkali dimarginalkan dalam pengambilan keputusan ekologis. Shafira menemukan bahwa para perempuan di komunitas GSR tidak hanya mengelola limbah demi ekonomi, tetapi sebagai bentuk ibadah ekologis.

“Aktivitas mereka merefleksikan hubungan mendalam antara perempuan dan alam. Ini adalah manifestasi dari Islamic Ecotheology, di mana menjaga lingkungan diselaraskan dengan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi,” jelas Shafira mengenai integrasi Unity of Sciences dalam risetnya.

Banyak yang bertanya bagaimana Shafira menjaga keseimbangan antara akademik dan organisasi. Kuncinya ternyata terletak pada kedisiplinan harian yang ketat. Berbeda dengan tipe mahasiswa deadliner, Shafira adalah tipe yang selalu mereview materi setiap hari.
• Metode Belajar: Membuat catatan khusus (daily note) setelah kuliah.
• Prinsip Kerja: Menerapkan sistem one day one task agar tugas tidak menumpuk.
• Keseimbangan: Tetap menyisipkan hobi olahraga basket dan voli dalam rutinitas harian agar tidak jenuh.

Selama kuliah, ia juga aktif di berbagai organisasi seperti Walisongo Sport Club (WSC) dan HMJ Sosiologi, membuktikan bahwa aktif berorganisasi justru mempertajam kemampuan manajemen waktu dan kepemimpinan.

Orang pertama yang menerima kabar bahagia ini adalah ibundanya. Melalui sambungan video call, seluruh keluarga besar yang sedang berkumpul di rumah tak kuasa menahan air mata haru. Shafira, sebagai cucu dan anak perempuan pertama di keluarga, telah melangkah jauh melampaui ekspektasi.

“Keluarga adalah pengingat utama saya tentang arti perjuangan. Pendidikan adalah amanah, dan saya ingin pulang sebagai seorang sarjana yang membawa manfaat,” tuturnya.

Ke depannya, Shafira berambisi untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 sambil tetap membuka diri pada pengalaman profesional di dunia kerja. Ia berpesan kepada adik tingkatnya agar tidak pernah menunda pekerjaan: “Selesaikan apa yang sudah dimulai, karena setiap proses yang berat akan terbayar pada waktunya.”

Kisah sukses Shafira adalah bukti bahwa FISIP UIN Walisongo mampu mencetak pemikir sosial yang peka terhadap isu kontemporer. Saat ini, jalur pendaftaran SNBP dan SPAN-PTKIN 2026 telah dibuka. Mari asah potensi sosiologis Anda di Kampus Kemanusiaan dan Peradaban. Kunjungi pmb.walisongo.ac.id untuk informasi lebih lanjut.

]]>
Antara Kitab Kuning dan Jurnal Ilmiah: Kisah Rasya’ Alfirdaus, Santri Penghafal Al-Qur’an yang Menjadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo https://walisongo.ac.id/antara-kitab-kuning-dan-jurnal-ilmiah-kisah-rasya-alfirdaus-santri-penghafal-al-quran-yang-menjadi-wisudawan-terbaik-uin-walisongo/ Sat, 07 Feb 2026 09:59:05 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016225 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub menjadi saksi bisu pengukuhan 1.277 wisudawan UIN Walisongo Semarang. Di tengah kemeriahan Wisuda Sarjana ke-99 ini, satu nama mencuri perhatian lewat dedikasinya menyeimbangkan dua dunia: pesantren dan kampus. Ia adalah Rasya’ Alfirdaus, wisudawan terbaik dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM).

Bagi Rasya’, predikat “Wisudawan Terbaik” bukanlah sekadar gelar administratif. Ini adalah jawaban atas doa dan disiplin panjang yang ia jalani sebagai santri di Ponpes Madrasatul Quran Al-Aziziyyah sekaligus mahasiswa di Kampus Kemanusiaan dan Peradaban.

Ketangguhan akademik Rasya’ terbukti dari cara ia menyusun tugas akhirnya. Alih-alih baru memulai di akhir semester, Rasya’ sudah menyusun draf artikel ilmiahnya sejak semester 4 saat mengambil mata kuliah Semantik Al-Qur’an.

Artikelnya yang berjudul “Makna Qaşd as-Sabīl dalam Al-Qur’an: Analisis Semantik Toshihiko Izutsu” berhasil membedah kerumitan makna istilah tersebut dengan pendekatan linguistik modern.

“Saya menemukan bahwa perbedaan makna suatu istilah tidak selalu berarti kontradiksi, melainkan bagian dari sistem semantik yang saling berhubungan,” jelas Rasya’.

Melalui riset ini, ia mempraktikkan visi Unity of Sciences UIN Walisongo dalam bentuk Humanisasi Ilmu-ilmu Agama—menjadikan kajian Al-Qur’an lebih kontekstual dan mampu menjawab problem sosial kekinian.

Menjadi santri sekaligus mahasiswa tentu bukan perkara mudah. Rasya’ harus mematuhi aturan ketat pesantren sambil tetap menjaga performa akademik. Mengenai ketakutan mahasiswa akan organisasi yang dapat menurunkan IPK, Rasya’ memiliki pesan tegas.

“Banyak mahasiswa gagal akademik karena prinsip yang terbalik. Mahasiswa masuk organisasi karena kuliah, bukan masuk kuliah karena organisasi. Kuliah itu utama, organisasi adalah penunjang.”

Kabar membanggakan ini langsung ia sampaikan kepada sang ayah. Ekspresi bangga terpancar jelas saat sang ayah membagikan berita kesuksesan putra dari keluarga sederhana ini kepada para guru dan keluarga besar. Nilai-nilai agamis yang ditanamkan mendiang ibunya dan keteguhan ayahnya menjadi bahan bakar utama bagi Rasya’ untuk terus melangkah.

Target Rasya’ selanjutnya tidak main-main. Ia membidik beasiswa untuk melanjutkan studi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sambil tetap mengabdi di pesantren. Baginya, belajar adalah spirit yang ia serap dari para gurunya.

]]>
Kisah Warda, Wisudawan Terbaik FDK UIN Walisongo dan Pejuang Kemanusiaan di Papua https://walisongo.ac.id/kisah-warda-wisudawan-terbaik-fdk-uin-walisongo-dan-pejuang-kemanusiaan-di-papua/ Sat, 07 Feb 2026 09:57:53 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016221 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), menjadi momen penuh air mata bahagia di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. Di antara 1.277 wisudawan yang dikukuhkan, nama Warda Rida Lailatul Mukarromah mencuat sebagai lulusan terbaik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).

Warda, sapaan akrabnya, berhasil menyisihkan 211 wisudawan S1 di fakultasnya dengan catatan prestasi yang gemilang. Namun, di balik selempang predikat “Terbaik”, tersimpan kisah perjuangan seorang anak petani yang bertekad memutus rantai ketidakterpelajaran di keluarganya.

Lahir dari keluarga sederhana di sebuah desa, Warda adalah sosok pertama dalam garis keturunannya yang berhasil meraih gelar sarjana. Baginya, prestasi ini adalah “pembayaran tunai” atas keringat orang tuanya yang bekerja keras di sawah demi membiayai kuliahnya.

“Motivator terbesar saya adalah orang tua. Mengingat kerja keras mereka adalah alasan utama saya untuk tidak boleh menyerah. Gelar ini adalah pembuktian bahwa proses panjang yang kami jalani tidak sia-sia,” ujar lulusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) ini.

Intelektualitas Warda tidak hanya diuji di ruang kelas. Ia menulis artikel ilmiah berjudul “Nilai-Nilai Bimbingan dan Konseling Pranikah dalam Buku Wonderful Journeys for a Marriage Karya Cahyadi Takariawan.” Penelitian ini ia susun sebagai solusi atas tingginya angka perceraian di Indonesia, menekankan pentingnya kesiapan mental dan spiritual sebelum membina rumah tangga.

Jiwa kemanusiaannya pun teruji saat ia mengikuti KKN Misi Khusus di Fakfak, Papua Barat. Di Indonesia Timur, Warda tidak hanya mengabdi, tetapi juga belajar tentang keragaman.

“Papua memberi saya keluarga baru. Di sana, stigma negatif patah oleh keramahan dan nilai kemanusiaan yang luar biasa kuat. Itu adalah pengalaman paling berharga selama saya kuliah,” kenangnya.

Warda adalah bukti nyata bahwa organisasi bukan penghambat prestasi. Daftar organisasinya sangat panjang, mulai dari DEMA FDK, PMII, Relawan Kesejahteraan Sosial, hingga yayasan kemanusiaan seperti Langkah Baik Indonesia.

Ia memegang prinsip “kerjakan hari ini, jangan tunda”. Baginya, aktif berorganisasi justru melatih tanggung jawab yang tidak didapatkan di bangku kuliah. “Organisasi itu ruang belajar tambahan. Kuncinya hanya manajemen waktu dan konsistensi,” tegasnya.

Seperti mahasiswa lainnya, Warda pun pernah merasa lelah. Namun, ia selalu memegang teguh pesan Imam Syafi’i tentang perihnya kebodohan jika tidak sanggup menahan lelahnya belajar.

Saat ditanya apa yang ingin ia sampaikan jika bisa kembali ke masa mahasiswa baru, Warda menjawab dengan haru: “Untungnya kamu tidak menyerah.”

Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Warda membidik kursi S-2 untuk melanjutkan studi atau terjun ke dunia profesional guna mengembangkan kapasitas diri. Harapannya untuk UIN Walisongo tetap satu: agar kampus Unity of Sciences ini terus mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga memiliki karakter kemanusiaan yang kuat.

]]>
Dobrak Paradigma Patriarki, Hilyati Aulia Sabet Wisudawan Terbaik Doktoral UIN Walisongo https://walisongo.ac.id/dobrak-paradigma-patriarki-hilyati-aulia-sabet-wisudawan-terbaik-doktoral-uin-walisongo/ Sat, 07 Feb 2026 09:56:38 +0000 https://walisongo.ac.id/?p=10000000016217 UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), menjadi hari yang bersejarah bagi 1.277 wisudawan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Bertempat di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub, prosesi Wisuda Doktor (S3) ke-41, Magister (S2) ke-66, dan Sarjana (S1) ke-99 berlangsung khidmat. Di balik ribuan toga yang berkumpul, sorot lampu tertuju pada Hilyati Aulia (Hilya), mahasiswa Program Pascasarjana S3 Studi Islam yang dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik.

Pencapaian ini bukanlah sebuah kebetulan. Bagi Hilya, gelar ini adalah manifestasi dari mimpi yang ia simpan sejak duduk di bangku S1. Dengan konsentrasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ia berhasil menyelesaikan jenjang tertingginya dengan predikat yang membanggakan.

Hilya menarik perhatian dunia akademik melalui disertasinya yang bertajuk “Otoritas Perwalian Perempuan dalam Al-Qur’an”. Berangkat dari kegelisahan terhadap sistem perwalian yang selama ini dipahami secara patriarkal, Hilya melakukan bedah kritis terhadap teks suci secara mendalam.

Temuan utama dalam penelitian Hilya cukup mengguncang kemapanan wacana keilmuan klasik. Berbasis Fungsi, Konsep perwalian dalam Al-Qur’an sebenarnya tidak berbasis gender, melainkan berbasis fungsi. Keadilan Normatif, Siapa pun (laki-laki maupun perempuan) yang mampu menjalankan fungsi perlindungan, tanggung jawab, dan pengelolaan secara adil, secara normatif layak menjadi wali. Egalitarian, Temuan ini membuka ruang tafsir yang lebih egaliter dan kontekstual, terutama bagi keluarga tanpa figur laki-laki yang fungsional.

“Gelar Wisudawan Terbaik ini adalah simbol dari keberanian untuk tetap berpikir kritis meski berada di tengah arus kemapanan wacana keilmuan,” ujar Hilya.

Berbeda dengan tipe mahasiswa “deadliner”, Hilya mengaku sebagai tipe pembelajar harian. Ia percaya bahwa konsistensi jauh lebih berharga daripada kerja mendadak. Dengan rutinitas membaca dan menulis setiap hari, beban disertasi yang berat terasa lebih terkendali.

Penerapan visi Unity of Sciences (Kesatuan Ilmu) UIN Walisongo juga tercermin kuat dalam risetnya. Ia mengintegrasikan tafsir tekstual dengan pendekatan sosial, historis, dan hukum, membuktikan bahwa wahyu dan rasio dapat berjalan beriringan untuk kemaslahatan manusia.

Lahir dari keluarga pendidik, Hilya memiliki pondasi kedisiplinan yang kuat sejak kecil. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari support system yang luar biasa. Sahabat dekat serta promotor yang inklusif menjadi alasan utama ia mampu bertahan ketika draf disertasinya berkali-kali disanggah secara akademik.

“Tantangan terbesar adalah saat argumen saya dipertanyakan. Namun, itu justru menjadi peluang untuk meneliti lebih dalam dan memperkuat pondasi ilmiah saya,” tambahnya.

Setelah meraih gelar Doktor dengan predikat terbaik, Hilya tidak lantas berhenti. Langkah besar selanjutnya adalah meniti program post-doctoral untuk melanjutkan riset-riset terkait gender dan keadilan sosial. Kepada para mahasiswa lain, ia berpesan:

“Targetkan cita-citamu setinggi-tingginya, tetapi tetap realistis dan sadar akan privilege serta kapasitas yang kamu miliki.”

]]>